Matanya tak lelah merayapi senti demi senti wajah itu..
hingga sosok itu memeta dihatinya..
Telingannya pun seakan mampu menampung jutaan kata manis hingga terpatri dalam ingatanya..
cintanya adalah kacamata dua lensa berlainan dikiri-kanan. kali ini sang pujangga seakan hanya membuka satu lensa keindahan..sementara lensa kegetiran ia tutupi begitu rupa..
tapi sampai kapan dapat menahan kehendak sebelah matanya yg tertutupi..untuk selalu mengalah pada yg terbuka?
seabstrak apapun cinta, ia tetap membutuhkan bayangan agar sosoknya hidup, tetapi bayangan itu justru kebalikan dari satu sosok..
jika begitu kegetiran adalah bayangan keindahan.
sang pujangga yg terlalu lugu untuk tahu bahwa cinta itu berbeling, yang mampu mengoyak jemari hatinya hingga luka dan bernanah hanya dengan satu sayatan..
beling itu menyebar, dan bersembunyi diantara manis kata buah cinta..
menunggu kedatangan sepasang pecinta untuk memetik dan memakannya, maka terlukalah mereka.
akhirnya sang pujangga, serupa petang yg murung..
sosoknya sesayu lilin tinggal sumbu...
hampa dan getir yg pekat bagaikan kelopak bunga tak jadi mekar,
kmudian menjuntai lunglai dlm ratap pnjngnya di gmerincing air hujan yg meriuh & mndesing..
hingga sang topan siap berpusing..
ia ingin kuyup agar larut smua lara yg menempel erat pd sembabnya.
ia ingin gigil agar hati yg dihuni amarah dan gema serapah menjadi 'sakit' yg akhirnya 'mati'.
dan...
kmudian tetap hujan yg mrindu.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar